.I’m not an Indie.

January 15th, 2009  Tagged

I think I am INDEPENDENT!
But then I realize, I am not an INDIE yet:(

Ternyata selama ini gw belum bisa berdiri di kaki gw sendiri. Mandiri dan melepaskan semua ketergantungan terhadap semua orang yang hadir di hidup gw.
Sampai usia 23 tahun ini, gw masih belum keluar dari rumah, masih meminta uang jajan dan ongkos kuliah (baik S1 dan S2) sama mama papa, masih numpang makan di rumah, masih sering menerima ‘donasi-donasi’ dari orang-orang yang peduli sama gw, masih sering menerima pulsa gratisan,menerima kebaikan teman-teman yang selalu saja ingat untuk berbagi rezeki dan kegembiraan mereka dengan mentraktir gw makan-makan, menonton film di bioskop karena dibayarin juga.

Intinya gw merasa tangan gw lebih banyak ada di bawah dari pada di atas. Gw takut keenakan ‘menerima’ saja, trus lupa kalau dunia menjadi seimbang karena ada yang mau menerima, namun ada pula yang mau memberi.

Gw suka perasaan bisa memberi. Suka banget perasaan pegang uang banyak hasil kerja keras gw, trus gw dengan bersemangatnya membelikan berbagai macam hadiah untuk keluarga, adik, pasangan, teman dan beberapa orang lainnya. Uang yang gw pegang gak pernah bisa awet. Selalu saja habis dengan cepat, tapi gak masalah, karena gw selalu yakin kalau memang kita niat memberi orang lain dengan ikhlas, pasti akan datang rezeki dari Allah yang jauh lebih besar. Entah berbentuk materil atau moril. Pun ternyata banyak banget orang yang baik sama gw, selalu memberi ke gw. sehingga gw tidak merasa serba kekurangan. Semua terasa cukup, membahagiakan dan yang paling penting mampu memenuhi kebutuhan gw. Saat gw butuh, pasti ada aja yang berbaik hati memberi. Kadang bingung sendiri, “kok uang mereka gak habis-habis yah?” Padahal kebutuhan pribadi saja sudah banyak, tapi masih mau berbagi ke orang lain dengan keterbatasan yang ada. Tapi gw tahu, uang mereka gak pernah kekurangan karena Tuhan pasti menggantikan semua kebaikan mereka itu.

Bisa memberi ke orang lain terasa seperti menabung kebaikan. Suatu saat, dalam keadaan terdesak dan sulit, ‘tabungan’ itu bisa ‘diambil’. Tuhan selalu aja punya cara ‘mengembalikan’ kebaikan itu ke diri sang pemberi kebaikan. Dan saat ini gw merasa tabungan gw kosong. Udah terlalu banyak yang gw ‘ambil’ dan secepatnya, gw harus isi lagi tabungan amal gw…

Mungkin orang-orang yang selalu memberi ke gw juga merasakan hal dan kepuasan yang sama dengan sering berbagai dan memberi yah?

Aku ingin berdiri sendiri, Tuhan. Tak mau lagi terlalu merepotkan orang lain, tak pantaslah aku bergantung kepada mereka, malu aku terhadap usiaku…

Memang kepastian kerja sudah gw dapatkan, walau entah kapan karir gw akan dimulai. Saat ini, gw masih menikmati kuliah tanpa beban pekerjaan, bersenang-senang kapanpun gw mau, membantu warung mamapapa di Jakarta, tidur malam dan bangun kesiangan, semua  kenikmatan yang pasti gak akan bisa gw nikmati lagi setelah nanti gw kerja.

Semoga tuhan selalu memberikan kemudahan rezeki, hidup, karir, dan kebahagiaan untuk orang-orang hebat yang selalu mendukung gw dan percaya bahwa suatu saat gw akan mampu berdiri di kaki gw sendiri dan menebar kebaikan lainnya seperti yang dulu pernah mereka lakukan. Sama seperti ide ‘Pay It Forward’, bahwa pada akhirnya kebaikan itu hanya perlu diteruskan…