.aku dalam cerita.

October 9th, 2009

Aku suka baca novel. Walau belakangan, buku-buku yang kubeli tampak terabaikan di rak buku karena ternyata gambar bergerak, stimulus pendengaran dan mengistirahatkan mata jauh lebih menarik dibandingkan dengan membaca baris demi baris tulisan di kertas.

Terkait dengan kegemaran membaca, aku selalu saja larut dalam tiap alur yang dibawa penulis. Aku bisa tiba-tiba menjadi sangat murung, berbahagia dan tersenyum sendiri atau menangis tersedu mengikuti sang tokoh. Mudah sekali mood-ku berubah hanya karena membaca sebuah buku. Aku bukan pengkhayal hebat. Larik demi larik tulisan pun tidak sepenuhnya muncul nyata dalam imajiku, kadang hanya berderet-deret kata yang terbaca cepat.

Terkadang aku khawatir dengan emosi yang begitu mudahnya naik dan turun. Aku bisa sangat merasa tersakiti, dikhianati bahkan kecewa. Semua perasaan yang tertulis tampak nyata di dada. Perihnya terasa, sakitnya membuat hati mencelos. Seperti membayangkan diri ini adalah lakon utama. Ini terjadi karena sadar atau tidak, aku mengasosiasikan kisah sedih, ditinggalkan dan rasa sepiku dengan kisah fiksi di novel.

Saat sang tokoh kecewa dan sedih, aku membayangkan diriku yang ditinggalkan. Aku tahu benar bagaimana perihnya dan hanya dengan memunculkan sedikit ‘perasaan terbuang’ itu, aku mampu menjadi tersakiti lagi.
Selalu saja aku membandingkan diriku dengan sang tokoh. Melihat siapa yang paling beruntung, siapa yang paling tersakiti; diriku atau tokoh di novel itu.
Sayangnya cerita di novel sering terlalu bombastis. Perempuan cantik, kurus, sukses, pekerja keras dan banyak dikejar pria. Atau pria tampan, cerdas, sukses, kaya dan selalu dapat apa yang diinginkan. Dunia novel tidak seperti duniaku. Mungkin karena saking tidak menariknya kehidupan perempuan berwajah pas-pasan dan otak standar sepertiku, makanya jarang sekali tipe ini dimunculkan di dalam novel.
Aku iri!
Iri akan akhir bahagia di tiap novel yang kubaca. Sering sekali menganggap diri ini tidak layak berbahagia seperti mereka yang ada di dalam cerita.

Mungkin itulah yang membuatku begitu tenggelam dalam cerita novel yang kubaca. Mereka seperti menunjukkan dunia yang tidak bisa kusentuh. Dunia yang bukan milikku.

Kemudian, bagaimana dengan akhir kisah hidupku?




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind