.sensasi syukur.

October 9th, 2009

Di tengah perjalanan pulang, mengendarai motor dari Kuningan menuju Tanah Abang, tiba-tiba terbersit satu pemikiran di sepanjang perjalanan 7 KM itu.

Pemikiran tentang pergeseran makna syukur dan nikmat.

Kembali ke beberapa tahun lalu di masa kuliah, saat uang menjadi hal yang hanya bisa dipinta ke orang tua. Saat harus bertahan di daerah orang dengan uang seadanya. Saat keterbatasan dan kesederhanaan menjadi makanan sehari-hari.

Makan ayam saja terasa nikmat. Hanya 5000 rupiah sudah cukup. Sudah lengkap dengan nasi dan sambalnya. Termasuk mewah sebenarnya bila dibandingkan dengan beberapa teman lain, mereka bisa lebih irit karena tidak selalu harus makan ayam atau daging.

Berbeda dengan lidahku yang sudah terlalu sering dimanjakan dengan makan daging atau ayam, sehingga menolak berbagai jenis sayuran.

Jadi, dapat dipastikan bahwa tiap kali sarapan, makan siang atau makan malam, pilihan menuku terbatas pada ayam panggang, ayam goreng, ayam kremes, soto ayam, gepuk, atau daging balado.
Menu yang mudah sekali ditebak=)

Harga 5000 per porsi adalah jumlah yang relatif kecil bila kubandingkan nilainya saat ini.
Tapi waktu itu, 15000 rupiah sudah merupakan batas maksimal pengeluaran tiap harinya.

Walau terbatas dana yang bisa kukeluarkan, tapi rasanya nikmat sekali tiap kali bisa makan. Bahkan dulu masih juga berusaha irit dengan mencari tempat penjual ayam yang harganya di bawah 5000=)

Kalau ada teman yang ulang tahun, senior yang sudah bekerja datang ke Purwokerto, atau mama papa nengok, aku dapat jatah traktir. Makan gratis!

Dan rasanya?

Senang bukan kepalang. Rasanya ucapan syukur tak henti-hentinya diucapkan. Syukur yang tidak hanya sekedar diucapkan di mulut.

Sekarang, saat sudah bisa mencari uang sendiri, rasa syukur yang dulu pernah begitu besar kurasakan, tiba-tiba hilang.

Makan hidangan selezat apapun atau semahal apapun, tapi tetap saja tidak dapat kualami lagi nikmatnya makan di saat kuliah dulu.

Lalu aku menyimpulkan, mungkin semakin sulit hidup dan mencari uang, maka rasa nikmat dan syukur itu akan menyeruak dengan mudah memenuhi rongga jiwa saat kebutuhan akhirnya terpenuhi.
Hingga akhirnya aku menjadi tidak habis pikir, kebaikan apa yang telah kulakukan hingga dapat merasakan nikmat sebesar itu.

Arti makan sesederhana untuk membuat perut kenyang, pikiran tenang dan hati riang.
Bukan makan agar prestise melonjok sehingga semahal apapun harganya pasti dibayar, padahal tidak sesuai selera.

Sekarang, mungkin aku menjadi tidak lagi pandai bersyukur, Ya Allah.

Mudah sekali kau berikan rezekiMu padaku, hingga mampulah aku mencoba banyak hal yang sebelumnya tidak mampu kubayar sendiri.
Dulu begitu kuhargai nilai seribu rupiah, namun sekarang tampak tak berarti.

Satu hal yang terus coba kulakukan untuk mendapatkan sensasi syukur dan nikmat yang dulu pernah kurasakan, yaitu dengan berbagi rezeki kepada orang lain.
Semoga berbagi rezeki ke orang lain rasanya akan semudah membuang uang untuk makan atau membeli barang yang kuinginkan

Sehingga biarlah kurasakan nikmat dan syukur yang orang lain rasakan setelah mereka menerima sedikit yang aku punya.

.woman with excuses.

October 9th, 2009

Melanjutkan cerita tentang diriku. Mengungkap sisi manusiawi yang dianggap sebagian orang hilang dari diriku.
Tapi bila menjadi egois dan memiliki keburukan merupakan kualitas yang dimiliki manusia normal, maka aku juga adalah seorang manusia normal…

Dulu -bahkan sampai sekarang, aku selalu saja pintar membuat alasan untuk lari dari ‘tanggung jawabku’.
Saat aku malas datang meeting, aku bilang bahwa aku sakit.
Saat aku tidak mau bertemu dengan teman-teman lamaku, aku bilang aku punya kesibukan lain.
Saat aku tidak menghadiri wisuda temanku, aku bilang aku harus pergi ke suatu tempat.
Saat aku tidak mau mengangkat telepon, aku bilang sedang di tengah perjalanan.
Saat aku datang terlambat, aku bilang bahwa ada pekerjaan lain yang harus aku selesaikan.
Saat aku tidak mengumpulkan tugas, aku bilang aku lupa.
Saat aku malas kumpul dengan teman, aku bilang aku punya acara keluarga.
Banyak lagi alasan-alasan lain yang aku buat untuk menghindari semua itu.
Kalau orang menganggap bahwa berkumpul dan berada di keramaian adalah hal yang menyenangkan, tidak demikian dengan diriku.
Saking terlalu nyaman dengan diri ini dan tidak mau berkompromi dengan orang lain, maka aku hidup dengan alasan-alasan.
Alasan yang kubuat-buat untuk tetap berada di zona amanku.
Kenapa harus selalu membuat alasan?
Aku selalu ingin semua di bawah kendaliku. Aku tidak mau berurusan dengan hal-hal yang tidak bisa kuhadapi.
Aku memulai sesuatu karena aku tahu akan bagaimana jadinya nanti. Atau setidaknya prediksiku tidak terlalu meleset.
Aku tidak suka dengan perubahan yang mendadak karena artinya, berbagai macam yang sudah kurencanakan akan gagal. Kupikir aku akan lebih siap menghadapi hidup bila aku sudah mempertimbangkan rencana A, B, C atau Z dan menaksir segala resiko yang mungkin kuhadapi.
Jadi, saat kupikir sebuah hal tidak cukup ‘aman dan nyaman’, maka aku membuat alasan-alasan.
Perlukah alasan lain mengapa aku membuat alasan-alasan itu?

.teman-temanku itu.

October 9th, 2009

Teman-temanku itu…
Adalah teman-teman yang selama 6 tahun terakhir berada di duniaku yang sepi.
Sepi, karena sedikit sekali orang yang kubiarkan masuk dan menjadi bagian darinya.
Bukan salah orang-orang, tapi memang aku selalu punya masalah dengan hubungan terhadap sesama. Mungkin terlalu nyaman di dunia buatanku sendiri. Terlalu takut berbaur dengan banyak orang di lingkungan -yang kupikir- tidak cukup ‘aman dan nyaman’ bagi keterasingan jiwaku.

Teman-temanku itu…
Yang sempat menjadi partner debatku, pelatih galakku, teman bermainku, seniorku, juniorku, lawan tanding debatku, teman latihanku, PO-ku, SC-ku, teman adu pendapatku, supporter sejatiku, kakakku, adikku dan semua titel yang pernah menempel pada mereka saat duniaku dan dunia mereka dipertemukan dalam naungan UNSOED, SEF, ENGLISH DEBATING SOCIETY, Jurusan KOMUINIKASI, dan beragam hal yang menjadikan kami satu.

Teman-temanku itu…
Yang pernah ‘kubuang’ hanya karena keegoisan, ketidakdewasaan serta kegagalanku membedakan antara apa HARUS dilakukan, disamping melakukan apa yang INGIN aku lakukan.
Yang kuhapus dari daftar pertemanaku karena kemarahan yang salah tempat gara-gara laki-laki bodoh dan pengecut yang takut menghadapi masa depan.

Teman-temanku itu…
Yang selalu memberiku kebebasan, privasi, cara pandang dan banyak ide brilian. Namun tidak pernah ikut campur dan sok tahu tentang jatuh bangunnya diriku. Yang tidak pernah usil dan mengusik duniaku. Yang menghargai diriku apa adanya dan menerima kelebihan serta kekurangan masing-masing.

Teman-temanku itu…
Yang membuatku selalu nyaman, sebodoh apapun aku, sejelek apapun aku, seaneh apapun aku, semiskin apapun aku, serendah diri apapun aku, sampai saat aku berada di kemapanan yang sedang kurintis saat ini. Itu karena masing-masing dari kami ingin hidup dengan diri kami yang apa adanya. Tanpa persaingan untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat atau siapa yang lebih sukses.
Karena kami merasa jengah dengan komunitas palsu yang penuh dengan kesombongan serta angkuh diri yang hanya berkomunikasi lewat beragam cerita penuh riya tentang kehebatan pribadi serta hanya mampu menjelekkan orang lain.

Teman-temanku itu…
Yang membuatku tidak perlu menjadi diri orang lain hanya agar dapat diterima dengan baik.

Teman-temanku itu…
Yang mau menerimaku kembali walau aku telah mengecewakan mereka.

Teman-temanku itu…
Tidak datang mengikuti siang dan tidak pergi mengikuti malam.

Teman-temanku itu…
Adalah sahabat yang telah teruji.

Biarlah persahabatan kami abadi. Biarlah keunikan kami menjadi warna. Kami tidak selalu seiya sekata, tapi kami tahu bahwa kami terikat.

Dan berlapis ikatan ini, awalnya hanya dimulai dengan sebuah kata: ‘DEBAT’.

Beruntungnya aku..

.aku dalam cerita.

October 9th, 2009

Aku suka baca novel. Walau belakangan, buku-buku yang kubeli tampak terabaikan di rak buku karena ternyata gambar bergerak, stimulus pendengaran dan mengistirahatkan mata jauh lebih menarik dibandingkan dengan membaca baris demi baris tulisan di kertas.

Terkait dengan kegemaran membaca, aku selalu saja larut dalam tiap alur yang dibawa penulis. Aku bisa tiba-tiba menjadi sangat murung, berbahagia dan tersenyum sendiri atau menangis tersedu mengikuti sang tokoh. Mudah sekali mood-ku berubah hanya karena membaca sebuah buku. Aku bukan pengkhayal hebat. Larik demi larik tulisan pun tidak sepenuhnya muncul nyata dalam imajiku, kadang hanya berderet-deret kata yang terbaca cepat.

Terkadang aku khawatir dengan emosi yang begitu mudahnya naik dan turun. Aku bisa sangat merasa tersakiti, dikhianati bahkan kecewa. Semua perasaan yang tertulis tampak nyata di dada. Perihnya terasa, sakitnya membuat hati mencelos. Seperti membayangkan diri ini adalah lakon utama. Ini terjadi karena sadar atau tidak, aku mengasosiasikan kisah sedih, ditinggalkan dan rasa sepiku dengan kisah fiksi di novel.

Saat sang tokoh kecewa dan sedih, aku membayangkan diriku yang ditinggalkan. Aku tahu benar bagaimana perihnya dan hanya dengan memunculkan sedikit ‘perasaan terbuang’ itu, aku mampu menjadi tersakiti lagi.
Selalu saja aku membandingkan diriku dengan sang tokoh. Melihat siapa yang paling beruntung, siapa yang paling tersakiti; diriku atau tokoh di novel itu.
Sayangnya cerita di novel sering terlalu bombastis. Perempuan cantik, kurus, sukses, pekerja keras dan banyak dikejar pria. Atau pria tampan, cerdas, sukses, kaya dan selalu dapat apa yang diinginkan. Dunia novel tidak seperti duniaku. Mungkin karena saking tidak menariknya kehidupan perempuan berwajah pas-pasan dan otak standar sepertiku, makanya jarang sekali tipe ini dimunculkan di dalam novel.
Aku iri!
Iri akan akhir bahagia di tiap novel yang kubaca. Sering sekali menganggap diri ini tidak layak berbahagia seperti mereka yang ada di dalam cerita.

Mungkin itulah yang membuatku begitu tenggelam dalam cerita novel yang kubaca. Mereka seperti menunjukkan dunia yang tidak bisa kusentuh. Dunia yang bukan milikku.

Kemudian, bagaimana dengan akhir kisah hidupku?

.aku takut jatuh cinta.

October 9th, 2009

Ini adalah cerita tentang apa yang ada di pikiranku. Pikiran seorang perempuan usia 24 tahun, lajang, bekerja sebagai calon PNS dan belum memiliki pasangan. Gak bisa digeneralisir juga sih kalau pemikiran ini dimiliki oleh perempuan-perempuan lain. Tapi gak ada salahnya juga mencoba untuk menyampaikan hal ini melalui notes. Bukan mengharapkan sebuah komentar ataupun sebuah ‘judgement’. Tapi sebuah usaha untuk lebih membuka diri dan akhirnya pengaharapan menjadi diri yang lebih baik lagi ke depannya.

Aku merasa takut sekali jatuh cinta. Takut menyayangi seseorang dan ternyata tidak berbalas. Bukan berarti aku tidak pernah menyukai seseorang. Sering sekali aku menyukai mereka. Bahkan dapat kukatakan aku adalah seseorang yang mudah sekali menyukai seseorang. Mudah sekali terjebak dalam sebuah perasaan yang terlalu ingin memiliki dan dimiliki.

Sampai saat ini, tidak sedikitpun terbesit wajah seseorang yang mungkin akan mendampingi hidupku. Aku menggeleng karena tidak sedikit pun dapat menggambarkan seperti apa wajahnya kelak. Pernah kah kamu berjalan dan di dalam pikiranmu, kamu selalu bertanya-tanya “Apakah Dia adalah untukku ya, Tuhan?” setiap kali bertemu seorang laki-laki yang dikenal atau bahkan wajah-wajah asing yang jalan melintas di hadapanmu -dalam perjalanan pulang kantor, menuju kampus, di atas bus, di atas motor, di dalam sebuah mall atau bahkan seseorang yang hanya lewat saja di depan rumahmu?

Aku melakukannya. Entah menyadarinya atau tidak, namun pertanyaan yang sama terus saja menggema di dalam ruang pikirku. Sampai-sampai aku berpikir kalau pemikiran dan pertanyaan seperti itu malah akan menjauhkanku dari jodohku yang sebenarnya. Saking aku terlalu penasaran, saking aku terlalu ingin tahu siapakah gerangan orang tersebut.

Setiap kali ada seorang laki-laki yang bersikap manis, baik, dan perhatian selalu saja ada rasa ‘begitu dihargai’ dan dengan mudahnya aku menyukainya. Belakangan baru aku ketahui bahwa sikap itu hanyalah sikap ‘basa-basi’ laki-laki yang memang senang sekali bersikap manis kepada semua perempuan dan tanpa mereka sadari seringkali ‘menjebak’ perempuan. Atau mungkin maksudku, menjebak perempuan dalam pikirannya sendiri bahwa mereka (baca: laki-laki) menyukai dirinya.

Mudah sekali akal dan perasaan ini dipermainkan. Aku bukan menyalahkan laki-laki, namun menyalahkan diri ini yang demikian rapuh mendamba seseorang yang sungguh menyayangiku, sampai-sampai sedikit saja perhatian dari wujud tersebut mampu membawa angan yang begitu jauh dan indah. Fool me!

Riwayat jatuh cintaku boleh dikatakan buruk. Semua tidak berbalas.

Apakah aku menyukai orang yang salah?
Atau memang ada yang salah dengan diriku sampai perasaan itu tidak berbalas?

Kadang aku benci menjadi seorang perempuan dengan budaya dan pemikiran kolot dalam dunia yang sangat konservatif seperti ini; yang menganggap bahwa perempuan tidak seharusnya menyatakan perasaan duluan, yang merasa lebih mudah membalas menyukai bila sang laki-laki terlebih dahulu menyukainya, yang merasa tidak punya tangan dan kaki serta keberanian untuk menunjukkan perasaan sayang kepada mereka karena ketakutan dianggap sebagai perempuan ‘genit atau kegatelan’ (atau apalah label yang diberikan oleh ‘masyarakat’).

Namun aku terkungkung di dalamnya dan aku sangat takut sekali mencoba (bahkan mencoba!) untuk menunjukkan perasaan lebih yang kumiliki kepada seseorang yang kusayangi. Apakah hal tersebut tidak layak??? Tidak layakkah mencari celah hati di dalam diri laki-laki yang dapat kumasuki untuk kudiami di dalamnya?

Bukan berarti aku tidak pernah mencoba menyatakannya. Aku pernah mencobanya. Dan rasanya sangat terbuang saat mengetahui bahwa perasaan itu hanya ada di pihakku.

Saat ini aku menjadi jengah dan rasa takut itu begitu menjadi-jadi sehingga aku menjadi takut berharap.

Aku takut berharap, bahkan aku takut membayangkannya; Mengkhayalkan si A yang begitu cerdas, si B yang begitu menarik, si C yang begitu dewasa atau si D yang begitu unik dan mengharap salah satu dari mereka menyukaiku.

Rasanya aku belajar bahwa apa yang benar-benar kuinginkan seringkali tidak menjadi nyata. Aku bermimpi tinggi dan dengan mudahnya aku terjatuh oleh realita. Sakit! Sehingga aku berfikir bahwa cara terbaik untuk dapat bertahan dalam hidup ini adalah dengan tidak menginginkan apapun. Membunuh ekspektasi yang terlalu tinggi dan menjaga diri dari menginginkan sesuatu yang mungkin terlalu berlebihan untuk diri ini.

Walau mencoba untuk tidak banyak berharap, namun ada sedikiit saja harapan. Aku ingin mendapatkan kesempatan ya, Allah. Kesempatan untuk mendapatkan diri ini kesempatan untuk lebih dikenal dengan baik oleh seseorang. Biarkan orang tersebut masuk ke kehidupanku. Mengenal diriku. AKu tahu aku cukup baik untuk seorang laki-laki, walau entah kapan laki-laki tersebut sampai pada kesadaran demikian.

Please just give me one shot to be loved…

.shortcuts in life.

October 9th, 2009

“There are no shortcuts in life or love. The pains must be felt. It’s what makes us special, what makes us beautiful, what makes us worthy; the pain of how we love. But the pain is accompanied by something else, HOPE. With the pain, there is hope. And that’s where you are. Somewhere between agony and optimism and prayer. So, you are human…”

Itu sepenggal kalimat yang disampaikan oleh marriage counselor-nya Sarah Walker dalam salah satu episode Brothers and Sisters, ‘Love is Difficult’. Belakangan ini sedang menikmati film seri itu dan semakin larut dalam setiap kisah yang terjalin di dalamnya.

Bosan mendengar kata-kata seperti itu karena sesungguhnya aku tahu bahwa semua yang sudah berakhir akan terganti lagi dengan sesuatu yang baru. Bosan menunggu. Well, mungkin seharusnya aku bergerak dan tidak hanya diam dan menunggu

.i wish i’ve never been here.

October 9th, 2009

Begitulah kata seorang temanku yang sekarang sedang berkuliah di negeri seberang. Takdir membawanya ke sana. Pilihan telah diambil; melepas pekerjaan di Jakarta, meninggalkan keluarga dan teman-teman tercinta juga hingar bingar ibukota.

Yang tidak pernah habis kupikir,the option seems too good to be true in the first place. Indah sekali! Dapat beasiswa, dapat uang kuliah, uang buku dan uang saku, tidak lupa dua titel menambah panjang deretan nama. Dulu, itu tampak seperti pilihan terbaik, hal terindah dan yang paling didambakan. Kami semua berlomba, berkejaran untuk mencapainya. Walau akhirnya takdir membawa jalan masing-masing ke arah yang memang telah ditunjukNya.

Pernahkah kamu begitu menginginkan sesuatu dan saat apa yang diinginkan telah diberikan, kamu tetap merasa hampa? Tetap merasa tidak puas?

Saat aku dihadapkan pada pilihan demi pilihan, aku menjadi gamang. Seringkali tidak yakin dan merasa pilihan yang tidak aku ambil tampaknya lebih baik dibandingan konsekwensi melekat atas pilihan yang telah kuambil.

Bila aku menjadi frustasi dan terpuruk dengan perasaan bersalah karena telah memilih pilihan yang ’salah’, bisa-bisa aku menjadi gila. Namun yang kulakukan adalah mengumpulkan poin-poin ekstra dari pilihan yang telah kubuat. Mencari justifikasi bahwa pilihan ini memang yang terbaik. Namun hikmah seringkali sulit didapat. Atau aku mungkin terlalu buta untuk melihat pelajaranNYA? Melihat makna dari takdirNYA?

Tidak.. Aku tidak menyesali harus tinggal di sini. Banyak sekali rezeki dan hikmah dengan tetap tinggal dan bertahan. Hanya saja, aku menjadi bingung mengapa beberapa temanku yang tampak sangat bersemangat untuk sekolah di sana, namun ternyata ‘menceritakan’ hal yang jauh dari bayanganku. Kupikir mereka beruntung. Beruntung bisa ada di sana. Begitu juga dengan diriku, beruntung berada di sana. Rezeki dan keberuntungan kami memang di dua tempat yang berbeda. Win-win solution kan?

Aku memang tidak tahu secara lengkap mengenai kisah di sana, namun bila memang ada beberapa hal yang harus dilewatkan demi menjadi lebih baik, bila memang ada banyak hal yang harus dikorbankan demi masa depan yang lebih baik, tolong tutup mulut kami dari mengeluarkan keluhan-keluhan atas kondisi yang ada ya, Tuhan…

Jadikan diri ini ikhlas atas pilihan yang telah kubuat. Jangan lagi ada kata-kata ’seandainya’ atau bahkan keinginan mengulang waktu agar dapat memilih pilihan berbeda yang telah diambil di saat ini.

Bila titik cerah belum juga terlihat, setidaknya jangan hilangkan harapan untuk melihat itu ya, Tuhan…