.sensasi syukur.

October 9th, 2009

Di tengah perjalanan pulang, mengendarai motor dari Kuningan menuju Tanah Abang, tiba-tiba terbersit satu pemikiran di sepanjang perjalanan 7 KM itu.

Pemikiran tentang pergeseran makna syukur dan nikmat.

Kembali ke beberapa tahun lalu di masa kuliah, saat uang menjadi hal yang hanya bisa dipinta ke orang tua. Saat harus bertahan di daerah orang dengan uang seadanya. Saat keterbatasan dan kesederhanaan menjadi makanan sehari-hari.

Makan ayam saja terasa nikmat. Hanya 5000 rupiah sudah cukup. Sudah lengkap dengan nasi dan sambalnya. Termasuk mewah sebenarnya bila dibandingkan dengan beberapa teman lain, mereka bisa lebih irit karena tidak selalu harus makan ayam atau daging.

Berbeda dengan lidahku yang sudah terlalu sering dimanjakan dengan makan daging atau ayam, sehingga menolak berbagai jenis sayuran.

Jadi, dapat dipastikan bahwa tiap kali sarapan, makan siang atau makan malam, pilihan menuku terbatas pada ayam panggang, ayam goreng, ayam kremes, soto ayam, gepuk, atau daging balado.
Menu yang mudah sekali ditebak=)

Harga 5000 per porsi adalah jumlah yang relatif kecil bila kubandingkan nilainya saat ini.
Tapi waktu itu, 15000 rupiah sudah merupakan batas maksimal pengeluaran tiap harinya.

Walau terbatas dana yang bisa kukeluarkan, tapi rasanya nikmat sekali tiap kali bisa makan. Bahkan dulu masih juga berusaha irit dengan mencari tempat penjual ayam yang harganya di bawah 5000=)

Kalau ada teman yang ulang tahun, senior yang sudah bekerja datang ke Purwokerto, atau mama papa nengok, aku dapat jatah traktir. Makan gratis!

Dan rasanya?

Senang bukan kepalang. Rasanya ucapan syukur tak henti-hentinya diucapkan. Syukur yang tidak hanya sekedar diucapkan di mulut.

Sekarang, saat sudah bisa mencari uang sendiri, rasa syukur yang dulu pernah begitu besar kurasakan, tiba-tiba hilang.

Makan hidangan selezat apapun atau semahal apapun, tapi tetap saja tidak dapat kualami lagi nikmatnya makan di saat kuliah dulu.

Lalu aku menyimpulkan, mungkin semakin sulit hidup dan mencari uang, maka rasa nikmat dan syukur itu akan menyeruak dengan mudah memenuhi rongga jiwa saat kebutuhan akhirnya terpenuhi.
Hingga akhirnya aku menjadi tidak habis pikir, kebaikan apa yang telah kulakukan hingga dapat merasakan nikmat sebesar itu.

Arti makan sesederhana untuk membuat perut kenyang, pikiran tenang dan hati riang.
Bukan makan agar prestise melonjok sehingga semahal apapun harganya pasti dibayar, padahal tidak sesuai selera.

Sekarang, mungkin aku menjadi tidak lagi pandai bersyukur, Ya Allah.

Mudah sekali kau berikan rezekiMu padaku, hingga mampulah aku mencoba banyak hal yang sebelumnya tidak mampu kubayar sendiri.
Dulu begitu kuhargai nilai seribu rupiah, namun sekarang tampak tak berarti.

Satu hal yang terus coba kulakukan untuk mendapatkan sensasi syukur dan nikmat yang dulu pernah kurasakan, yaitu dengan berbagi rezeki kepada orang lain.
Semoga berbagi rezeki ke orang lain rasanya akan semudah membuang uang untuk makan atau membeli barang yang kuinginkan

Sehingga biarlah kurasakan nikmat dan syukur yang orang lain rasakan setelah mereka menerima sedikit yang aku punya.

.woman with excuses.

October 9th, 2009

Melanjutkan cerita tentang diriku. Mengungkap sisi manusiawi yang dianggap sebagian orang hilang dari diriku.
Tapi bila menjadi egois dan memiliki keburukan merupakan kualitas yang dimiliki manusia normal, maka aku juga adalah seorang manusia normal…

Dulu -bahkan sampai sekarang, aku selalu saja pintar membuat alasan untuk lari dari ‘tanggung jawabku’.
Saat aku malas datang meeting, aku bilang bahwa aku sakit.
Saat aku tidak mau bertemu dengan teman-teman lamaku, aku bilang aku punya kesibukan lain.
Saat aku tidak menghadiri wisuda temanku, aku bilang aku harus pergi ke suatu tempat.
Saat aku tidak mau mengangkat telepon, aku bilang sedang di tengah perjalanan.
Saat aku datang terlambat, aku bilang bahwa ada pekerjaan lain yang harus aku selesaikan.
Saat aku tidak mengumpulkan tugas, aku bilang aku lupa.
Saat aku malas kumpul dengan teman, aku bilang aku punya acara keluarga.
Banyak lagi alasan-alasan lain yang aku buat untuk menghindari semua itu.
Kalau orang menganggap bahwa berkumpul dan berada di keramaian adalah hal yang menyenangkan, tidak demikian dengan diriku.
Saking terlalu nyaman dengan diri ini dan tidak mau berkompromi dengan orang lain, maka aku hidup dengan alasan-alasan.
Alasan yang kubuat-buat untuk tetap berada di zona amanku.
Kenapa harus selalu membuat alasan?
Aku selalu ingin semua di bawah kendaliku. Aku tidak mau berurusan dengan hal-hal yang tidak bisa kuhadapi.
Aku memulai sesuatu karena aku tahu akan bagaimana jadinya nanti. Atau setidaknya prediksiku tidak terlalu meleset.
Aku tidak suka dengan perubahan yang mendadak karena artinya, berbagai macam yang sudah kurencanakan akan gagal. Kupikir aku akan lebih siap menghadapi hidup bila aku sudah mempertimbangkan rencana A, B, C atau Z dan menaksir segala resiko yang mungkin kuhadapi.
Jadi, saat kupikir sebuah hal tidak cukup ‘aman dan nyaman’, maka aku membuat alasan-alasan.
Perlukah alasan lain mengapa aku membuat alasan-alasan itu?

.teman-temanku itu.

October 9th, 2009

Teman-temanku itu…
Adalah teman-teman yang selama 6 tahun terakhir berada di duniaku yang sepi.
Sepi, karena sedikit sekali orang yang kubiarkan masuk dan menjadi bagian darinya.
Bukan salah orang-orang, tapi memang aku selalu punya masalah dengan hubungan terhadap sesama. Mungkin terlalu nyaman di dunia buatanku sendiri. Terlalu takut berbaur dengan banyak orang di lingkungan -yang kupikir- tidak cukup ‘aman dan nyaman’ bagi keterasingan jiwaku.

Teman-temanku itu…
Yang sempat menjadi partner debatku, pelatih galakku, teman bermainku, seniorku, juniorku, lawan tanding debatku, teman latihanku, PO-ku, SC-ku, teman adu pendapatku, supporter sejatiku, kakakku, adikku dan semua titel yang pernah menempel pada mereka saat duniaku dan dunia mereka dipertemukan dalam naungan UNSOED, SEF, ENGLISH DEBATING SOCIETY, Jurusan KOMUINIKASI, dan beragam hal yang menjadikan kami satu.

Teman-temanku itu…
Yang pernah ‘kubuang’ hanya karena keegoisan, ketidakdewasaan serta kegagalanku membedakan antara apa HARUS dilakukan, disamping melakukan apa yang INGIN aku lakukan.
Yang kuhapus dari daftar pertemanaku karena kemarahan yang salah tempat gara-gara laki-laki bodoh dan pengecut yang takut menghadapi masa depan.

Teman-temanku itu…
Yang selalu memberiku kebebasan, privasi, cara pandang dan banyak ide brilian. Namun tidak pernah ikut campur dan sok tahu tentang jatuh bangunnya diriku. Yang tidak pernah usil dan mengusik duniaku. Yang menghargai diriku apa adanya dan menerima kelebihan serta kekurangan masing-masing.

Teman-temanku itu…
Yang membuatku selalu nyaman, sebodoh apapun aku, sejelek apapun aku, seaneh apapun aku, semiskin apapun aku, serendah diri apapun aku, sampai saat aku berada di kemapanan yang sedang kurintis saat ini. Itu karena masing-masing dari kami ingin hidup dengan diri kami yang apa adanya. Tanpa persaingan untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat atau siapa yang lebih sukses.
Karena kami merasa jengah dengan komunitas palsu yang penuh dengan kesombongan serta angkuh diri yang hanya berkomunikasi lewat beragam cerita penuh riya tentang kehebatan pribadi serta hanya mampu menjelekkan orang lain.

Teman-temanku itu…
Yang membuatku tidak perlu menjadi diri orang lain hanya agar dapat diterima dengan baik.

Teman-temanku itu…
Yang mau menerimaku kembali walau aku telah mengecewakan mereka.

Teman-temanku itu…
Tidak datang mengikuti siang dan tidak pergi mengikuti malam.

Teman-temanku itu…
Adalah sahabat yang telah teruji.

Biarlah persahabatan kami abadi. Biarlah keunikan kami menjadi warna. Kami tidak selalu seiya sekata, tapi kami tahu bahwa kami terikat.

Dan berlapis ikatan ini, awalnya hanya dimulai dengan sebuah kata: ‘DEBAT’.

Beruntungnya aku..

.aku dalam cerita.

October 9th, 2009

Aku suka baca novel. Walau belakangan, buku-buku yang kubeli tampak terabaikan di rak buku karena ternyata gambar bergerak, stimulus pendengaran dan mengistirahatkan mata jauh lebih menarik dibandingkan dengan membaca baris demi baris tulisan di kertas.

Terkait dengan kegemaran membaca, aku selalu saja larut dalam tiap alur yang dibawa penulis. Aku bisa tiba-tiba menjadi sangat murung, berbahagia dan tersenyum sendiri atau menangis tersedu mengikuti sang tokoh. Mudah sekali mood-ku berubah hanya karena membaca sebuah buku. Aku bukan pengkhayal hebat. Larik demi larik tulisan pun tidak sepenuhnya muncul nyata dalam imajiku, kadang hanya berderet-deret kata yang terbaca cepat.

Terkadang aku khawatir dengan emosi yang begitu mudahnya naik dan turun. Aku bisa sangat merasa tersakiti, dikhianati bahkan kecewa. Semua perasaan yang tertulis tampak nyata di dada. Perihnya terasa, sakitnya membuat hati mencelos. Seperti membayangkan diri ini adalah lakon utama. Ini terjadi karena sadar atau tidak, aku mengasosiasikan kisah sedih, ditinggalkan dan rasa sepiku dengan kisah fiksi di novel.

Saat sang tokoh kecewa dan sedih, aku membayangkan diriku yang ditinggalkan. Aku tahu benar bagaimana perihnya dan hanya dengan memunculkan sedikit ‘perasaan terbuang’ itu, aku mampu menjadi tersakiti lagi.
Selalu saja aku membandingkan diriku dengan sang tokoh. Melihat siapa yang paling beruntung, siapa yang paling tersakiti; diriku atau tokoh di novel itu.
Sayangnya cerita di novel sering terlalu bombastis. Perempuan cantik, kurus, sukses, pekerja keras dan banyak dikejar pria. Atau pria tampan, cerdas, sukses, kaya dan selalu dapat apa yang diinginkan. Dunia novel tidak seperti duniaku. Mungkin karena saking tidak menariknya kehidupan perempuan berwajah pas-pasan dan otak standar sepertiku, makanya jarang sekali tipe ini dimunculkan di dalam novel.
Aku iri!
Iri akan akhir bahagia di tiap novel yang kubaca. Sering sekali menganggap diri ini tidak layak berbahagia seperti mereka yang ada di dalam cerita.

Mungkin itulah yang membuatku begitu tenggelam dalam cerita novel yang kubaca. Mereka seperti menunjukkan dunia yang tidak bisa kusentuh. Dunia yang bukan milikku.

Kemudian, bagaimana dengan akhir kisah hidupku?

.aku takut jatuh cinta.

October 9th, 2009

Ini adalah cerita tentang apa yang ada di pikiranku. Pikiran seorang perempuan usia 24 tahun, lajang, bekerja sebagai calon PNS dan belum memiliki pasangan. Gak bisa digeneralisir juga sih kalau pemikiran ini dimiliki oleh perempuan-perempuan lain. Tapi gak ada salahnya juga mencoba untuk menyampaikan hal ini melalui notes. Bukan mengharapkan sebuah komentar ataupun sebuah ‘judgement’. Tapi sebuah usaha untuk lebih membuka diri dan akhirnya pengaharapan menjadi diri yang lebih baik lagi ke depannya.

Aku merasa takut sekali jatuh cinta. Takut menyayangi seseorang dan ternyata tidak berbalas. Bukan berarti aku tidak pernah menyukai seseorang. Sering sekali aku menyukai mereka. Bahkan dapat kukatakan aku adalah seseorang yang mudah sekali menyukai seseorang. Mudah sekali terjebak dalam sebuah perasaan yang terlalu ingin memiliki dan dimiliki.

Sampai saat ini, tidak sedikitpun terbesit wajah seseorang yang mungkin akan mendampingi hidupku. Aku menggeleng karena tidak sedikit pun dapat menggambarkan seperti apa wajahnya kelak. Pernah kah kamu berjalan dan di dalam pikiranmu, kamu selalu bertanya-tanya “Apakah Dia adalah untukku ya, Tuhan?” setiap kali bertemu seorang laki-laki yang dikenal atau bahkan wajah-wajah asing yang jalan melintas di hadapanmu -dalam perjalanan pulang kantor, menuju kampus, di atas bus, di atas motor, di dalam sebuah mall atau bahkan seseorang yang hanya lewat saja di depan rumahmu?

Aku melakukannya. Entah menyadarinya atau tidak, namun pertanyaan yang sama terus saja menggema di dalam ruang pikirku. Sampai-sampai aku berpikir kalau pemikiran dan pertanyaan seperti itu malah akan menjauhkanku dari jodohku yang sebenarnya. Saking aku terlalu penasaran, saking aku terlalu ingin tahu siapakah gerangan orang tersebut.

Setiap kali ada seorang laki-laki yang bersikap manis, baik, dan perhatian selalu saja ada rasa ‘begitu dihargai’ dan dengan mudahnya aku menyukainya. Belakangan baru aku ketahui bahwa sikap itu hanyalah sikap ‘basa-basi’ laki-laki yang memang senang sekali bersikap manis kepada semua perempuan dan tanpa mereka sadari seringkali ‘menjebak’ perempuan. Atau mungkin maksudku, menjebak perempuan dalam pikirannya sendiri bahwa mereka (baca: laki-laki) menyukai dirinya.

Mudah sekali akal dan perasaan ini dipermainkan. Aku bukan menyalahkan laki-laki, namun menyalahkan diri ini yang demikian rapuh mendamba seseorang yang sungguh menyayangiku, sampai-sampai sedikit saja perhatian dari wujud tersebut mampu membawa angan yang begitu jauh dan indah. Fool me!

Riwayat jatuh cintaku boleh dikatakan buruk. Semua tidak berbalas.

Apakah aku menyukai orang yang salah?
Atau memang ada yang salah dengan diriku sampai perasaan itu tidak berbalas?

Kadang aku benci menjadi seorang perempuan dengan budaya dan pemikiran kolot dalam dunia yang sangat konservatif seperti ini; yang menganggap bahwa perempuan tidak seharusnya menyatakan perasaan duluan, yang merasa lebih mudah membalas menyukai bila sang laki-laki terlebih dahulu menyukainya, yang merasa tidak punya tangan dan kaki serta keberanian untuk menunjukkan perasaan sayang kepada mereka karena ketakutan dianggap sebagai perempuan ‘genit atau kegatelan’ (atau apalah label yang diberikan oleh ‘masyarakat’).

Namun aku terkungkung di dalamnya dan aku sangat takut sekali mencoba (bahkan mencoba!) untuk menunjukkan perasaan lebih yang kumiliki kepada seseorang yang kusayangi. Apakah hal tersebut tidak layak??? Tidak layakkah mencari celah hati di dalam diri laki-laki yang dapat kumasuki untuk kudiami di dalamnya?

Bukan berarti aku tidak pernah mencoba menyatakannya. Aku pernah mencobanya. Dan rasanya sangat terbuang saat mengetahui bahwa perasaan itu hanya ada di pihakku.

Saat ini aku menjadi jengah dan rasa takut itu begitu menjadi-jadi sehingga aku menjadi takut berharap.

Aku takut berharap, bahkan aku takut membayangkannya; Mengkhayalkan si A yang begitu cerdas, si B yang begitu menarik, si C yang begitu dewasa atau si D yang begitu unik dan mengharap salah satu dari mereka menyukaiku.

Rasanya aku belajar bahwa apa yang benar-benar kuinginkan seringkali tidak menjadi nyata. Aku bermimpi tinggi dan dengan mudahnya aku terjatuh oleh realita. Sakit! Sehingga aku berfikir bahwa cara terbaik untuk dapat bertahan dalam hidup ini adalah dengan tidak menginginkan apapun. Membunuh ekspektasi yang terlalu tinggi dan menjaga diri dari menginginkan sesuatu yang mungkin terlalu berlebihan untuk diri ini.

Walau mencoba untuk tidak banyak berharap, namun ada sedikiit saja harapan. Aku ingin mendapatkan kesempatan ya, Allah. Kesempatan untuk mendapatkan diri ini kesempatan untuk lebih dikenal dengan baik oleh seseorang. Biarkan orang tersebut masuk ke kehidupanku. Mengenal diriku. AKu tahu aku cukup baik untuk seorang laki-laki, walau entah kapan laki-laki tersebut sampai pada kesadaran demikian.

Please just give me one shot to be loved…

.shortcuts in life.

October 9th, 2009

“There are no shortcuts in life or love. The pains must be felt. It’s what makes us special, what makes us beautiful, what makes us worthy; the pain of how we love. But the pain is accompanied by something else, HOPE. With the pain, there is hope. And that’s where you are. Somewhere between agony and optimism and prayer. So, you are human…”

Itu sepenggal kalimat yang disampaikan oleh marriage counselor-nya Sarah Walker dalam salah satu episode Brothers and Sisters, ‘Love is Difficult’. Belakangan ini sedang menikmati film seri itu dan semakin larut dalam setiap kisah yang terjalin di dalamnya.

Bosan mendengar kata-kata seperti itu karena sesungguhnya aku tahu bahwa semua yang sudah berakhir akan terganti lagi dengan sesuatu yang baru. Bosan menunggu. Well, mungkin seharusnya aku bergerak dan tidak hanya diam dan menunggu

.i wish i’ve never been here.

October 9th, 2009

Begitulah kata seorang temanku yang sekarang sedang berkuliah di negeri seberang. Takdir membawanya ke sana. Pilihan telah diambil; melepas pekerjaan di Jakarta, meninggalkan keluarga dan teman-teman tercinta juga hingar bingar ibukota.

Yang tidak pernah habis kupikir,the option seems too good to be true in the first place. Indah sekali! Dapat beasiswa, dapat uang kuliah, uang buku dan uang saku, tidak lupa dua titel menambah panjang deretan nama. Dulu, itu tampak seperti pilihan terbaik, hal terindah dan yang paling didambakan. Kami semua berlomba, berkejaran untuk mencapainya. Walau akhirnya takdir membawa jalan masing-masing ke arah yang memang telah ditunjukNya.

Pernahkah kamu begitu menginginkan sesuatu dan saat apa yang diinginkan telah diberikan, kamu tetap merasa hampa? Tetap merasa tidak puas?

Saat aku dihadapkan pada pilihan demi pilihan, aku menjadi gamang. Seringkali tidak yakin dan merasa pilihan yang tidak aku ambil tampaknya lebih baik dibandingan konsekwensi melekat atas pilihan yang telah kuambil.

Bila aku menjadi frustasi dan terpuruk dengan perasaan bersalah karena telah memilih pilihan yang ’salah’, bisa-bisa aku menjadi gila. Namun yang kulakukan adalah mengumpulkan poin-poin ekstra dari pilihan yang telah kubuat. Mencari justifikasi bahwa pilihan ini memang yang terbaik. Namun hikmah seringkali sulit didapat. Atau aku mungkin terlalu buta untuk melihat pelajaranNYA? Melihat makna dari takdirNYA?

Tidak.. Aku tidak menyesali harus tinggal di sini. Banyak sekali rezeki dan hikmah dengan tetap tinggal dan bertahan. Hanya saja, aku menjadi bingung mengapa beberapa temanku yang tampak sangat bersemangat untuk sekolah di sana, namun ternyata ‘menceritakan’ hal yang jauh dari bayanganku. Kupikir mereka beruntung. Beruntung bisa ada di sana. Begitu juga dengan diriku, beruntung berada di sana. Rezeki dan keberuntungan kami memang di dua tempat yang berbeda. Win-win solution kan?

Aku memang tidak tahu secara lengkap mengenai kisah di sana, namun bila memang ada beberapa hal yang harus dilewatkan demi menjadi lebih baik, bila memang ada banyak hal yang harus dikorbankan demi masa depan yang lebih baik, tolong tutup mulut kami dari mengeluarkan keluhan-keluhan atas kondisi yang ada ya, Tuhan…

Jadikan diri ini ikhlas atas pilihan yang telah kubuat. Jangan lagi ada kata-kata ’seandainya’ atau bahkan keinginan mengulang waktu agar dapat memilih pilihan berbeda yang telah diambil di saat ini.

Bila titik cerah belum juga terlihat, setidaknya jangan hilangkan harapan untuk melihat itu ya, Tuhan…

.may God help us.

January 27th, 2009

Knp byk yg pesimis bhw Barack Obama bs membuat perubahan sih? Mnurut gw,pikiran orang2 itu picik bgt. Kenyataannya, memang satu orang sulit mengubah dunia. Tp satu orang bs menginspirasi byk orang dan bergerak bersama membuat perubahan agar menjadikan dunia ini tempat yg lebih baik untuk ditinggali.

Kalau kita mempertanyakan kemampuan Obama merubah kebijakan Amerika, artinya kita lupa bahwa Amerika bukan hanya ada di tangan seorang presiden. Keputusan2 penting melibatkan byk kepala dan seorang yg ‘begitu berbeda’ spt Obama pun tidak mungkin bs menjadi seorang diktator yang memiliki tangan besi utk mengatur Amerika sekehendak hatinya. (Dengar sumpahnya Prest+VP deh,bhw mreka brjanji utk menjaga(preserve), melindungi(protect), dan membela(defend) KONSTITUSI AMERIKA melawan berbagai macam musuh internasional dan domestik -ini adalah justifikasi berbagai sikap opresif AS. Pun tyt mreka disumpahi utk melakukan berbagai macam cara utk melindungi dominansi dan determinasi AS terhadap dunia internasional.)
This is the point, I guess.

Dalam pandangan gw, perubahan yg mampu dibawa Obama adalah perubahan POLA PIKIR SECARA MASSAL. Bahwa semua orang bisa melakukan perubahan bila memang mengusahakan perubahan itu. Bahwa seseorang dari golongan minoritas bisa bangkit dan mewakili golongan yg lbh luas lg. Bahwa semangat untuk berubah harus ada dan itu bukan hanya sekedar mimpi. Bahwa masyarakat dunia harus yakin akan munculnya calon-calon pemimpin muda yg akan membawa negara masing2 menjadi maju dan makmur. Bahwa keberanian bermimpi adalah hal yang patut didukung.

Smg indonesia dan kita semua mampu melihat lebih jauh di balik kemenangan Obama. Think outside the box. Jgn menggantungkan harapan di pundak seorang presiden Amerika. Tp gantungkan harapan ke diri masing-masing utk mengusahakan perubahan itu terjadi di tempat kita berpijak.
Spread the positive mental attitude:)

.We cannot respond attack with DIPLOMACY.

January 27th, 2009

“Ironic!
Hypocrite!”
That’s my statement..
Last nite I saw Lions for Lambs… It’s a good movie. There were a lot smart statements..
No..no… i’m not gonna write a review in here (I’ll do it later in my blog)..hehe.

The setting of the film was about the preoccupation of USA in Afghan and the justification from USA govt to did so.

The americans themselves doubt, questioned and argued the policy made by their govt.

In one of the dialogue, Senator Jesper Irving (Tom Cruise) stated:
“We cannot respond attack with DIPLOMACY”
SILLY STATEMENT!
But why the world (esp.States) keep on responding ‘nothing’ for what ISRAELI DO IN PALESTINE??
Huwf…

.we just feel insecure.

January 27th, 2009

Hm,itu bukanlah justifikasi kita atas ke’kurangpeduli’an yg ditunjukkan ke seorang remaja yg tampak bingung dan terus bertanya kemana arah ke Pulo Gadung kalau berjalan kaki.
Pertanyaan lain yg jg terus ditanyakan adalah kemana jalur alternatif ke Jogja dgn brjalan kaki.
(Sempat terceletuk ucapan nakal dr bibir gw: ‘Wah..jalan kaki ke Jogja, emang mau buat rekor MURI?:p wekekek->just kidding:p)

Hm,saat itu,gw,sigit,mba enno dan jules br aja plg dr Sahid stlh menyelesaikan ujian English di akhir semester ini.

Entah apa yg ada di benak teman2 gw, tapi yg pasti, yg pertama terlintas di pikiran gw adlh sebuah ketidakpercayaan.

Gw pernah dengar crt dr azhar, wkt itu dia sempat didatangi bpk2 yg minta ditunjukkan arah ke Bandung,krn tampak kelelahan, bingung dan mengaku tdk punya uang, si mas memberikan uang utk si bapak naik bus dan menunjukkan arah ke kantor polisi terdekat. Di akhir,si mas br brfikir, apakah org tsb jujur atau tdk.

Gw smpt berfikir apakah itu adalah motif penipuan terbaru. Tp di sisi lain, gw mrasa jahat krn bahkan di pikiran awal terselip rasa tdk percaya. I really feel insecure (tyt ini jg dirasain sm Sigit).

What I want to emphasize in here (in my own case) is that my social awareness and humanity were suddenly disappear because of the feeling of insecure, restless, and distrust toward the others. In my opinion, this is a signal of self-degradation toward the social issues and it’s not a good one.
But what more can I say if in fact, the situation surround us is not secure and safe anymore.

Suddenly I remember something, Ryry ever sent this story about Dalai Lama. I forget the exact stories,but the point is the nature of every person is various. If you believe that ur nature is good, full of love and affection, u should not give up just bcoz the other’s nature is contrary with yours. U should not be bad and ignorant to those who cannot show the same attitude as we do (hm..membingungkan yah:)hehe..

Hm,akhirnya,sang remaja beranjak menjauh dan terdiam sejenak serta tampak menangis. Kami memutuskan memberikan sebagian uang yg kami miliki utknya dan segera beranjak pulang krn perasaan takut dan tidak aman msh saja menyelimuti.
(Jan 22nd 2009; 9.20pm)

.I’m not an Indie.

January 15th, 2009  Tagged

I think I am INDEPENDENT!
But then I realize, I am not an INDIE yet:(

Ternyata selama ini gw belum bisa berdiri di kaki gw sendiri. Mandiri dan melepaskan semua ketergantungan terhadap semua orang yang hadir di hidup gw.
Sampai usia 23 tahun ini, gw masih belum keluar dari rumah, masih meminta uang jajan dan ongkos kuliah (baik S1 dan S2) sama mama papa, masih numpang makan di rumah, masih sering menerima ‘donasi-donasi’ dari orang-orang yang peduli sama gw, masih sering menerima pulsa gratisan,menerima kebaikan teman-teman yang selalu saja ingat untuk berbagi rezeki dan kegembiraan mereka dengan mentraktir gw makan-makan, menonton film di bioskop karena dibayarin juga.

Intinya gw merasa tangan gw lebih banyak ada di bawah dari pada di atas. Gw takut keenakan ‘menerima’ saja, trus lupa kalau dunia menjadi seimbang karena ada yang mau menerima, namun ada pula yang mau memberi.

Gw suka perasaan bisa memberi. Suka banget perasaan pegang uang banyak hasil kerja keras gw, trus gw dengan bersemangatnya membelikan berbagai macam hadiah untuk keluarga, adik, pasangan, teman dan beberapa orang lainnya. Uang yang gw pegang gak pernah bisa awet. Selalu saja habis dengan cepat, tapi gak masalah, karena gw selalu yakin kalau memang kita niat memberi orang lain dengan ikhlas, pasti akan datang rezeki dari Allah yang jauh lebih besar. Entah berbentuk materil atau moril. Pun ternyata banyak banget orang yang baik sama gw, selalu memberi ke gw. sehingga gw tidak merasa serba kekurangan. Semua terasa cukup, membahagiakan dan yang paling penting mampu memenuhi kebutuhan gw. Saat gw butuh, pasti ada aja yang berbaik hati memberi. Kadang bingung sendiri, “kok uang mereka gak habis-habis yah?” Padahal kebutuhan pribadi saja sudah banyak, tapi masih mau berbagi ke orang lain dengan keterbatasan yang ada. Tapi gw tahu, uang mereka gak pernah kekurangan karena Tuhan pasti menggantikan semua kebaikan mereka itu.

Bisa memberi ke orang lain terasa seperti menabung kebaikan. Suatu saat, dalam keadaan terdesak dan sulit, ‘tabungan’ itu bisa ‘diambil’. Tuhan selalu aja punya cara ‘mengembalikan’ kebaikan itu ke diri sang pemberi kebaikan. Dan saat ini gw merasa tabungan gw kosong. Udah terlalu banyak yang gw ‘ambil’ dan secepatnya, gw harus isi lagi tabungan amal gw…

Mungkin orang-orang yang selalu memberi ke gw juga merasakan hal dan kepuasan yang sama dengan sering berbagai dan memberi yah?

Aku ingin berdiri sendiri, Tuhan. Tak mau lagi terlalu merepotkan orang lain, tak pantaslah aku bergantung kepada mereka, malu aku terhadap usiaku…

Memang kepastian kerja sudah gw dapatkan, walau entah kapan karir gw akan dimulai. Saat ini, gw masih menikmati kuliah tanpa beban pekerjaan, bersenang-senang kapanpun gw mau, membantu warung mamapapa di Jakarta, tidur malam dan bangun kesiangan, semua  kenikmatan yang pasti gak akan bisa gw nikmati lagi setelah nanti gw kerja.

Semoga tuhan selalu memberikan kemudahan rezeki, hidup, karir, dan kebahagiaan untuk orang-orang hebat yang selalu mendukung gw dan percaya bahwa suatu saat gw akan mampu berdiri di kaki gw sendiri dan menebar kebaikan lainnya seperti yang dulu pernah mereka lakukan. Sama seperti ide ‘Pay It Forward’, bahwa pada akhirnya kebaikan itu hanya perlu diteruskan…

.mellow bcoz of Lala Suwages.

November 25th, 2008  Tagged

Duh, lagi mellow banget…
Gara-gara dengerin lagunya Lala Suwages yang judulnya LOVE.
Lala Suwages bener-bener punya magic di tiap lagu dan suaranya deh.
Bang Sigit dan Mba Winda yang kenal duluan sama si Lala Suwages. Waktu gw tanya, Si Sigit bilang, “Umm..Lala Suwages tuh pemain volley:) ” Asal bangetttt!! hahaha
Hehehe, Lala Suwages adalah pendatang baru dalam dunia masik jazz di Indonesia.

Umm,,pengen banget ada yang nanyiin lagu ini pake gitar. Uwf…I’m gonna be the happiest women on earth:)hehehe

Kamu bisa nyanyiin buat aku gak, Mas sayang?? :D

LOVE (by Lala Suwages)

Sometimes I want you as the dream your dream
I’d like to kiss your sleepy face
I lay there and pray
You never ever go away
No one could take your place

And in the morning when you smile “Hello”
I feel the sunshine in my heart
My love isn’t blind
I’m never ever changed my mind
I’ll die if you should leave

Ooh…  love you are for everything
You’re the song I sing
Your music is forever
Love, I have never heard such a lovely word
A word that means together
Love, I will give to you and I will be true
Until my life is over
You’ve make my world go round
I’m never let you down, my only love

The day I look at you, My life began
You gave me reason to be here
My heart seems to know
You’ll never ever let me go
I always have you near

.at the lowest phase of my life.

November 23rd, 2008

Ya Allah, manusia memang rapuh…
Janganlah jadikan diriku bersandar dalam rapuhnya
Janganlah jadikan diriku berharap dalam rapuhnya
Janganlah jadikan diriku menuntut dalam rapuhnya
Janganlah jadikan diriku kecewa lagi karena lupa bahwa manusia memang rapuh dan tidak selalu bisa diandalkan
Jadikanlah aku bersandar, berharap dan meminta HANYA padaMU
Sehingga tidak ada lagi rasa kecewa, tertinggal, sendiri dan terabaikan dalam diriku
Karena cukup bagiku hadirMU dalam hidup dan langkahku.

.at the lowest phase of my life.

It’s not the end…It’s THE BEGINNING!

November 15th, 2008  Tagged , , , ,

Ummm…setelah seminggu kemarin mengikuti banyak tes CPNS di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU/ Senin, 3 November), Departemen Perhubungan (DEPHUB/ Selasa, 4 November), dan Departemen Perdagangan (DEPDAG/ Sabtu, 8 November), akhirnya minggu ini gw dapat hasil dari ujian tertulisnya.

Alhamdulillah nama gw masuk di ketiga lembaga tersebut. Ada rasa bangga dan bahagia, saat nama gw bisa tercantum di daftar yang lolos ujian tertulis substansial (apalagi sejarah tes substansial gw jelekkk banget! GAGAL di DEPKEU, DEPLU dan juga BKPM), semuanya terasa menyesakkan dada, apalagi setelah gw menanam banyak harapan:() Allah mungkin akhirnya mengabulkan doa gw dan orang-orang terdekat gw, walau gw belum lulus tesnya secara keseluruhan, namun kesempatan gw masuk menjadi jauuuh lebih besar. Di DEPHUB dan DEPDAG, nama gw termasuk dua terbaikdari ratusan kandidat yang mendaftar (jadi hanya perlu menyisihkan 1 orang saja untuk mendapatkan posisi tersebut). Di KPPU memang masih banyak, tapi setidaknya gw sudah satu langkah lagi mendekati mimpi-mimpi gw.

Saat mengirimkan berkas CPNS, ada surat pernyataan yang harus ditandatangani di atas materai yang menyatakan bahwa bila yang bersangkutan mengundurkan diri setelah dinyatakan lulus seleksi, maka akan didenda sejumlah uang (nilainya berbeda-beda, mulai dari Rp. 10 juta, Rp. 15 juta, bahkan sampai Rp. 25 juta). Artinya, saat memang nama kita masuk dalam daftar yang lolos tes keseluruhan, maka kita tidak memiliki pilihan untuk menerima atau menolak tawaran tersebut. Boleh saja menolak, tapi membayar kompensasi sebesar itu pasti sangat memberatkan :((

Nah, kembali lagi ke kondisi gw, minggu depan gw (lagi-lagi!) akan mengikuti serangkaian tes yang melelahkan. Ini adalah tes terakhir (psikotes dan wawancara) untuk menjadi PNS.  Check my schedule:

Senin, 17 November 2008 : Psikotes dan Wawancara di Departemen Perhubungan

Selasa, 18 November 2008 : Psikotes di Departemen Perdagangan

Rabu, 19 November 2008 : Psikotes di KPPU

It’s gonna be a tiring weeks (for sure!), dan gw akan mengikuti semuanya (dengan resiko kalau gw diterima di semua institusi, maka banyak sekali kompensasi yang harus gw bayar!), namun kalau gw gak coba semuanya, dari mana gw tahu gw akan lolos dimana. Pahitnya, gw ternyata gak lolos di semua institusi dan setidaknya gw puas karena telah melewati semua proses dengan baik.

Gw pernah bilang ke seorang teman:

“Betapa rapuhnya manusia, saat diberikan kesulitan selalu mengeluh, memohon agar doa-doanya dikabulkan, namun disaat doa-doanya dikabulkan dan dihadapkan pada banyak pilihan yang menyenangkan pun tetap saja manusia mengeluh”

Manusia dalam tulisan di atas tidak lain adalah diri gw sendiri. Gw selalu bertanya pada Allah, kenapa aku gagal di tes DEPKEU, DEPLU dan BKPM? Kenapa lagi-lagi aku harus mengecewakan kedua orang tua gw yang sudah berharap banyak ke gw (terlebih dengan situasi yang gak favorable seperti saat sekarang) ?, mengapa tak kunjung kau berikan aku pekerjaan yang baik yang tidak akan mengganggu pencapaian cita-cita pendidikan kuliahku yang sekarang sedang aku jalani ?, berapa lama lagi harus kumenunggu sampai ‘vonis’ itu dijatuhkan ? dan beratus pertanyaan lain yang kuhaturkan dalam doa-doaku.

Sekarang?
Mungkin Allah mengabulkan doa-doaku (yang ternyata  terlalu rakus dan banyak!), aku mendapatkan banyak kesempatan untuk tes akhir di institusi2 tersebut. Kembali lagi aku rapuh, pilihan mana yang terbaik untukku ya, Allah? Aku bingung dengan pengabulan doa-doaku sendiri. Aku tidak tahu arahku selanjutnya. Semoga Allah memberikanku jalan yang terang dan mudah untuk mampu melewati semua proses kehidupan ini tanpa penyesalan di akhir pilihanku.

Satu lagi hal yang menjadi beban pikiran gw, saat ini gw sedang menjalani kuliah Manajemen Pariwisata di Sekolah Pasca Sahid. Program Double Degree antara Universitas Sahid dan Universiti Utara Malaysia (UUM). Bila tidak ada halangan dan memang janji pemerintah bisa dipenuhi, maka gw dan 14 teman penerima beasiswa unggulan akan berangkat ke Malaysia sekitar bulan Mei/ Juni 2009 untuk mengambil gelar MBA di UUM. Satu lagi mimpi gw untuk bisa sekolah di luar negeri secara gratis tanpa perlu merepotkan orang tua gw.

Semua teman gw sudah bekerja dan mereka siap meninggalkan pekerjaan mereka untuk berangkat ke Malaysia, sebagian lagi bahkan dapat cuti tanpa tanggungan selama +/- 9 bulan masa studi kami di Malaysia, nah, untuk gw, kalau gw insyaAllah diterima jadi PNS, maka gw akan otomatis kehilangan kesempatan gw untuk berangkat ke Malasyia bersama mereka. Departemen pemerintah sangat kaku untuk masalah seperti ini.

Pilihan apa yang harus gw ambil? Bukankah tidak pernah ada kesempatan kedua untuk hal yang sama? Gw pengeeeen banget bisa kuliah bareng mereka ke Malaysia. Tujuan gw ambil beasiswa ini adalah karena iming-iming mendapatkan kesempatan kuliah di sana. Gw gak mau tertinggal sendiri di Indonesia, gw pengen berangkat bareng Mba Winda, Non Elda, Bang Sigit, Thami, Mba Eva, Mba Mila, Mba Betty, Mba Bintang, Mba Nieke, Mas Sidik, Mba Eno, Mba Feny, Mas Dwi dan Mba Endah. Gw pengen merasakan bahagianya bisa kuliah bareng mereka dan memanfaatkan waktu-waktu senggang dengan kegilaan-kegilaan yang biasa kita lakukan bareng.

Ya Allah…banyak sekali keinginanku. Sadarkanlah diriku bahwa tidak semua hal yang aku inginkan bisa aku raih, namun tidak apa aku bermimpi kan, ya Allah?

Aku bermimpi bisa kuliah bareng mereka, menyelesaikan program Master-ku di Malaysia dan mendapatkan pekerjaan yang terbaik untukku, demi keluargaku dan yang dapat menjadi kebanggaanku, yang bisa mengangkat kondisi keluargaku yang sedang kurang baik, membantu adik-adikku dan juga dapat membantu orang-orang lain. Janganlah lagi ada yang menghina atau menjatuhkan keluargaku. Aku ingin mereka bahagia…

Sempat aku berfikir bahwa mengikuti tes CPNS hanya sekedar untuk mengukur sampai sejauh mana kemampuanku berkompetisi. Hanya sebuah perwujudan ego dan pembuktian diri. Mampukah aku lolos?  Karena cita-citaku jelas, menjadi seorang DIPLOMAT, namun tak kunjung ku temukan jalan ke sana. Atau memang mungkin itu bukan takdirku. Betapa diriku tidak pernah berpuas diri atas rahmatMU ya Allah..Astagfirullah :((

Terimaksih ya Allah atas kejutan-kejutanMU, yang KAU bungkus rapih dalam berbagai cerita tawa, sedih, dan haru yang harus aku jalani setiap harinya. Semoga aku selalu ikhlas akan kehandakMU dan berikanlah akhir yang bahagia dalam setiap jalan yang kutempuh. Tunjukkanlah jalan dan berikanlah kemudahan dalam setiap keputusan-keputusan yang kuambil. Janganlah KAU jadikanku tersesat.

Banyak hal lain menanti di depanku…Semoga mimpi-mimpiku seiring  sejalan dengan kehendak Allah. Amien…

Proudly Introduce them! :)

November 7th, 2008  Tagged , , , , , , , ,

Udah hampir UTS lagi. Hiks..

Ternyata begitulah kehidupan para mahasiswa master degree…

Setelah dijalani, memang menarik. Terutama buat gw yang belum kerja. Gw gak terlalu punya banyak beban menjalaninya.Walau gw sadar kalau ternyata susah banget, hmm, apalagi buat temen2 gw yang udah kerja ya..

Banyak banget cerita tentang sulitnya berbagi beban kuliah dan kerja.
Bagaimana dengan gw? Gw memohon2 supaya Tuhan kasih gw jalan agar bisa segera kerja, tapi memang belum ada yang terbuka buat gw…
Mungkin ini emang jalan yang tuhan kasih buat gw.

Gw belum dikasih kerjaan yang tetap, supaya gw bisa memikirkan hal2 yang ada di depan mata gw aja.

Btw, gw gak mau bahas tentang kerjaan ah..Tapi pengen cerita tentang temen2 kuliah yang edan bangettt!!

Terima kasih, Allah, kelas ini bener2 bisa ‘menyuntik’ semangat gw yang turun-naik.

Just Nisa

Proudly Introduces:

n1163353958_180640_268-225x300.jpg

Winda Princarini

Mba Winda yang baikk hati ini kerja di Insurance Company. She’s a great friend of mine, supporter of life and her story inspire me in so many profound way. Thanks for your trust, mba..

Chatting with you is an addiction :)

1_262092298l-225x300.jpg

St Elda Hiererra

Non Elda is my best friend! Non Elda tuh cantik (no offence!:)). Ummm.sempet jadi none Bekasi dan ambassador of Binus. She told me that I should be thankful for everything I have in my life now. One thing for sure, her positive energy affects me. Thanks, Non.. Semoga kamu akan selalu bahagia dengan jalan hidup yang akan kamu tempuh nanti.

eno-235x300.jpg

Retno Sulistiyawarni

Umm..Mba Enno tuh cerdas bangett, keibuan, kritis, trus suka ngebantuin gw. Gw belajar banyak bagaimana untuk bersikap dengan baik dari dia.Hebat lah!:)

cheese126-300x225.jpg

Feny Juliani

Mba Feni sama2 kerja di Bank seperti Mba Eno. Orangnya cantik, imut, mungil, trus kelihatan lembut banget.. Yang paling favorit dari dia adalah HP kamera 5MP-nya yang selalu dibawa kemana-manaJwekekekekek. Bahasa Inggrisnya jago euy. Anak UI gt loh. wekekekekek.

endah-300x225.jpg

Endah Lestari

Sumpah..ni orang lucuu banget. Tapi, kalau jiwa sentimental-nya udah tersentuh, bisa daleem banget. Gw gak ngerti, tapi kayaknya mba Endah sering menutupi perasaannya. Gw tahu dia happy, tapi dia coba ‘deny’. Umm. Umm…Mungkin ada hubungan dengan masa lalunya. Entahlah:) However, semoga kamu menemukan apa yang kamu cari ya, mba…

thami-300x199.jpg

D. Utami

Um, Thami tuh wartawan majalah Ekonomi. Kritis banget! Punya banyak cerita yang bisa dia bagi setelah dia banyak mewawacarai orang2 penting di banyak perusahaan gede. Orangnya spontan banget. Ratu gossip!

Milawati

Mba Mila tuh kerja di LSM. Orangnya kalem banget, tapi rasa ingin tahunya tinggi banget. Hebatnya, dia gak pernah nyerah belajar EKMAN yang terkenal susssah.wekekekekek. Semangat, mba..Aku nunggu ‘keponakan’ nih, mba.
Segeralah hadirkan dia di muka bumi ini..amien.

Sigit Pratama

Bang Sigit adalah Abang Jakarta Timur. Badannya tingggi bangettt. Sumpah deh, bahkan gw jauuuh dibawah pundaknya..Udah kayak monster aja. wekekekekek. Orangnya suka ngomong ‘Doh…’ Entah apa artinya, tapi kalau dia udah ngomong gt, dengan logat khasnya, lucu bangett! English Reading-nya bagus banget. Suaranya juga OK. Bang, jadi penyiar aja. hehehehe. Sigit paling sering gangguin orang2 sholat, trus paling senang ‘menindas’ mba Endah. wekekekekekek

eva-225x300.jpg

Eva Fadriyani

Eva tuh cantik. Mukanya kayak Revalina S. Temat. hehehehe. Sering ngirimin gw sms jayus (sebagai reply sms2 inspirasional gw.wekekekekek). Pinter banget EKMAN. Uwf..kenapa gw bego banget EKMAN yah. hehehehe.

Muhammad Hisyam

Ummm, kerja di DEPHUB dan sering banget bawain kita oleh2 kalau dia travel dengan pesawatnya keliling dunia. Soalnya dia bisa nyetir pesawat juga a.k.a pilot. Orangnya baik lah..Rajin puasa juga..wekekekekek

Kira2 itu temen2 deket gw di kampus. Dunia kampus membuat gw bersemangat lagi.. Mereka membuat gw lebih bersemangat.
Luv y’all, pals.

November 7th, 2008

Kamu adalah cahaya di suatu nebula
Kamu adalah api bagi setiap beku
Kamu adalah marawis di setiap sunyi
Terima kasih untuk pernah hadir…

.:From someone who loves rains:.

ps.I’m sorry I was not treating you good.

They said …

November 7th, 2008  Tagged , , , ,

Ingat kata-katanya Arai gak pas ikal jadi pesimis? ‘Kita tidak bisa mendahului nasib! Kita tidak punya wewenang ilmiah untuk mendahului takdir!!’ Kk gak ditakdirkan untuk gagal, Ang yakin itu. Takdir urusan Tuhan, bagaimana kita menyikapi, itu urusan kita.” (Anggita M. Hairani)

Tuhan itu baik kok, kalau sekarang kamu belum dapat kerja, percaya deh, tuhan sedang sibuk cariin kerja yang sesuai dengan talentamu.” (D. Utami)

Neng, kamu smart, energik, punya semangat tinggi, friendly, punya ambisi, jago bahasa inggris and EVERYBODY LOVES YOU! Kamu punya segalanya. Allah lebih tahu segalanya. YAKIN NENG! Kamu pasti dapat yang kamu pengen! Aku yakin banget sama kamu. Semua orang yakin banget sama kemampuan kamu! Hanya mungkin waktu belum berpihak sama kamu.” (St Elda Hiererra)

princarini: nisa harus kuatttt
princarini: saat nisa nangis dan ngira kalo nisa udah ga kuat lagiii
princarini: disitulahh sbnrnya nisa itu kuattttt
princarini: kuattt bgttt
annisa_fw: kok begitu?
princarini: orang yang kuat kan juga boleh nangis
princarini: hehehehe
princarini: cayooo nisaaaa
(Winda Princarini)

Jangan stress, mb Nisa. Pasti nanti dapat, Mba Nisa kan punya kemampuan untuk itu. Tinggal tunggu waktunya aja. Semangat!”(Anisa)

Every time I failed, they’re always around. Do what they can do to keep my spirit high…

Dunno whatta do without them…

Luv y’all

Visit Indonesia Year 2008: The Ups and Downs*

October 31st, 2008  Tagged ,

By: Annisa F. Wulandari

As the tourism industry emerged, so is the awareness toward the importance of tourism industry in contributing to economical benefit in a country. In order to answer this condition, the government of Indonesia launched a program called ‘Visit Indonesia Year 2008′. This program aimed to improve the welfare of society on the basis of tourism sector. It’s also projected that the program will improve competitiveness level of Indonesia tourism in International and national scope. The celebration of 100 years national awakening is one of the spirits that are brought by this program. As the concrete target, the government has set 7 million visitors in the year 2008. This number is increased from last year’s target of 6 million visitors. There are some strategies that have been planned in order to make ‘Visit Indonesia Year 2008′ successful. However, there are some weaknesses in the government’s effort concerning Visit Indonesia Year 2008.

Based on statistical data, the number of tourists visiting Indonesia during the period of January - March 2008 has increased 12,7 % from the previous period and reached the number of 1.86 million visitors. In the period between January - April 2008, Bali itself has accumulated 594,068 visitors, showing a year-on-date increase of 25.74% over the same period in 2007 (472,450). If current trends continue, Bali could end the year with foreign tourist arrivals of around 2.1 million. It’s a good indicator of how well this program is running. However, 7 million visitors is not a small number to be achieved and the end of 2008 is just 2 months away.

Yes, we believe that there are some accomplishments made by the program, but we see it’s necessary to highlight some government’s weaknesses regarding to this program, such as lack of coordination among respected parties (i.e. Ministry of Culture and Tourism, media institution, Foreign Affair Minister, local society, etc), lack of human resources and skill about tourism industry, ineffective publication and promotion, problems in maintaining the facilities and tourism objects, difficulty in determining potential tourism objects and marketing the objects, and lack of awareness from Indonesian people themselves. All of these weaknesses should be evaluated and the government must take firm and quick actions before we end this ‘Visit Indonesia Year 2008′ program.

In conclusion, the program of ‘Visit Indonesia Year 2008′ is a way to make Indonesian tourism one step forward from its position at the present time. Indonesia has uniqueness, rich heritage, traditional culture, culinary attraction, and values that can be promoted throughout the world. Indonesia has been motivated by seeing the development of tourism industry from our neighbors, such as Malaysia and Thailand. We can also reach that level of tourism industry if we walk hand in hand and perform comprehensive evaluation and strategies. Criticizing government’s effort to make VIY 2008 success won’t solve any problems, but we need to choose the right channel to give suggestion to the government and contribute in promoting Indonesia as the richest country of its heritage and culture. We Love Indonesia!

(*) This essay is written for the English task in Graduate Program of Sekolah Pasca Sarjana Sahid.

.being with you.

October 27th, 2008

being with you, friends, is a great moment to forget my problems…

break-up?

October 21st, 2008  Tagged

I forget to warn you that when you start a relationship with me, you should really notice that I’m unpredictable, easily explode, sensitive, emotional, insecure, weird and fragile, so that you should handle with care.

Most time I blame myself for being so impatient, demanding and emotional, but I believe that’s the process to be more mature. I am just afraid that you will not be that patient to  understand me and ‘take care’ of me…

Love (still) hurts:(